A. BELAJAR DI TANAH SUCI MAKKAH
1. Belajar di Masjid al-Haram
Muhammad Saggaf berangkat ke Tanah Suci menggunakan kapal laut. Untuk
pertama kali dalam hidupnya, ia naik kapal laut dan meninggalkan kampung
halamannya. Laut begitu luas seolah tanpa batas. Berganti-ganti matahari
muncul di kaki langit sebelah Timur dan menghilang di ufuk Barat. Warna
merah di saat matahari muncul dan tenggelam menimpa ombak dan riak di
lautan yang maha luas ibarat lukisan yang begitu indah. Maha Besar Allah
dengan ciptaan-ciptaan-Nya.
Sesampai di Tanah Suci, Tuan Guru Haji Abdul Madjid langsung mencari
rumah kontrakan di Makkah. Mula-mula di kampung Suqullail. Namun
menjelang pulang ke Pancor 2 tahun kemudian, untuk tempat tinggal
Zainuddin dan ibunya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid mengontrak rumah di
Syari’ Abunnajar.
Beberapa hari setelah musim haji usai, Tuan Guru Haji Abdul Madjid mulai
sibuk mencarikan guru buat anaknya. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan
beliau berkeliling di Masjidil Haram dan melihat-lihat beberapa
ulama/syaikh sedang menghadapi murid-muridnya. Mereka bersila dalam
sebuah lingkaran kecil dan syaikh yang mengajar mengaji itu duduk di
ujung di atas kasur tipis. Sistem yang dipakai adalah halaqah, yakni
semuanya duduk bersila dan syaikh membaca kitab yang sedang dipelajari.
Sampailah penjalanan Tuan Guru Haji Abdul Madjid pada sebuah halaqah.
Syaikh yang mengajar di lingkaran itu bertubuh sedang dan berumur 50
tahun. Ada beberapa orang mengelilingi guru itu. Dari caranya mengajar,
Tuan Guru Haji Abdul Madjid merasa cocok jika syaikh itu menjadi guru
anaknya. Belakangan diketahui, syeikh itu bernama Syeikh Marzuki.
Syeikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia
sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram. Ia
fasih berbahasa Indonesia dan Arab. Kebanyakan muridnya berasal dari
Indonesia. Ada yang dari Palembang, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah,
Jawa Timur maupun Lombok. Salah seorang murid Syeikh Marzuki yang
berasal dan Lombok bernama H. Abdul Kadir dari desa Mamben, Lombok
Timur. H. Abdul Kadir sudah setahun lebih belajar di Makkah pada waktu
itu.
Prosesi penyerahan Muhammad Saggaf [yang saat ini telah berganti nama
menjadi Muhammad Zainuddin kepada Syeikh Marzuki di ilustrasikan oleh
Ibrahim Husni, sebagai berikut :
“Assalamu ’Alaikum” seru Tuan Guru Haji Abdul Madjid.
“Wa ’Alaikumussalam” jawab Syeikh Marzuki bersama murid-muridnya.
“Ya Maulana Syeikh” Adapun saya menghadap Tuan ini, hendak mengantar
anak saya belajar kepada Tuan, kata Tuan Guru Haji. Abdul Madjid dengan
takzimnya. Muhammad Zainuddin duduk di belakang ayahnya sambil menunduk
diam.
“Mana anak Tuan?, tanya Syaikh Marzuki. Tuan Guru Haji Abdul Madjid
menyuruh anaknya tampil ke depan. Muhammad Zainuddin agak gemetar
menuruti perintah ayahnya. Baiklah, anak Tuan boleh belajar bersama
mereka, kata Syeikh Marzuki. Tuan Guru Haji Abdul Madjid minta agar
anaknya Muhammad Zainuddin langsung ikut mengaji bersama Syaikh Marzuki.
Meski begitu, ayahnya tak langsung pulang, tapi menuggu dari jauh.
Muhammad Zainuddin gemetar begitu menenima sebuah kitab tebal dan
bertuliskan Arab tanpa harakat [kitab gundul]. Selama di Lombok ia belum
pernah memegang kitab besar seperti itu. Ia juga baru mulai mengenal
ilmu Nahwu-Sharaf sedikit saja dan Tuan Guru Haji Syarafuddin, namun ia
tidak berani membantah perintah ayahnya.
Untung saja Syeikh Marzuki juga tidak banyak bertanya. Sebab, Syeikh
Marzuki terus saja membacakan kitab itu, lalu beberapa murid bergantian
membacanya. Sampai beberapa hari tidak ada kejadian apa-apa. Muhammad
Zainuddin yang menjadi murid termuda dan tenkecil dalam jamaah pengajian
itu hanya bisa terdiam. Sebab ia juga tidak tahu apa yang dibacanya.
Beberapa hari kemudian, seorang murid Syeikh Marzuki terlambat hadir,
kemudian duduk di dekat Muhammad Zainuddin.
“Sampai di mana Maulana Syeikh membacanya? tanya orang itu, sambil
menepuk pahanya. Hoeh? Tanya Muhammad Zainuddin pura-pura tak mengerti.
“Sampai di mana Maulana Syaikh membacanya? tanya orang itu agak keras.
Beberapa teman di sekelilingnya menengok.
“Ooooh... sampai di sini, ujar Muhammad Zainuddin sambil meraba salah
satu halaman yang sedang dibaca gurunya. Tapi ia tidak tahu persis,
karena ia tak bisa membacanya.
Orang itu mendesak terus, namun ia tetap hanya menunjuk halamannya saja.
Akhirnya orang itu mengerti bahwa ia memang tidak bisa membaca.
Peritiwa itu didengar oleh teman-temannya. Beberapa orang temannya
mentertawakan kejadian itu.
“Goblok. Bagaimana bisa pandai kalau cara belajarnya saja salah. Ibarat
orang belajar memanjat di mulai dari atas. Mana tahu caranya turun,
“ujar beberapa orang temannya sambil tertawa.
Zainuddin terdiam saja. Besoknya ia masih terus mengaji. Sesekali mereka
masih terus mengejek, namun ia tidak pernah menanggapinya. Dalam hati ia
merasa caranya mengaji memang salah. Ia ingin dari awal, tapi tidak
pernah benani menyampaikan keinginan itu kepada ayahnya. Dan ia terus
masuk tiap hari tanpa mengetahui apa yang diperoleh dari kehadirannya
mengaji di Syaikh Manzuki.
Setelah ayahnya pulang ke Lombok, ia langsung berhenti belajar mengaji
pada Syaikh Marzuki, karena ia merasa tidak banyak mengalami
perkembangan yang berarti dalam menuntut ilmu selama ini. Namun, ia
belum sempat memperoleh guru baru, terjadi perang saudara di Saudi
Arabia antara faksi Wahab?” yang sudah menyebar ke seluruh Saudi melawan
kekuasaan Syarif Hussein. Faksi Wahabi ingin memberantas praktek-praktek
ziarah kubur dengan menghancurkan makam para sahabat termasuk juga akan
menghancurkan makam Rasulullah SAW di Madinah.
Selama pertempuran berlangsung, situasi Masjid al-Haram dalam keadaan
sepi tanpa ada aktivitas pengajian, sehingga tak seorang ulama’pun
memberikan bimbingannya. Melihat kondisi ini, ia merasa kebingungan,
sampai ada seorang teman yang mengajaknya untuk belajar ilmu-ilmu
mujarabat atau perdukunan kepada “guru-guru gelap”, dengan kitab
Mujarabat al-Dzairobi sebagai kitab pegangannya. Disamping itu, ia juga
mempelajari ilmu-ilmu mandal [melihat seseorang yang dicari memakai kuku
yang dihitamkan], huruf al-Istintoq [meramal memakai huruf] dan
sebagainya.
Pada saat itu, ia juga mempelajani ilmu sastra dengan spesifikasi
syair-syair Arab kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh
Muhammad Amin al-Kutbi. Pada saat itulah ia berkenalan dengan Sayyid
Muhsin al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang.
Ternyata ia kemudian menjadi gurunya di Madrasah al-Shaulatiyah. Sayyid
Muhsin juga pendiri Madrasah Darul Ulum yang saat itu amat terkenal di
Makkah dan sebagian besar muridnya berasal dari Indonesia. Dari Lombok,
salah seorang murid madarash itu adalah Tuan Guru Haji Zainal Abidin
dari Sakra, termasuk mantan anggota Dewan Musytasyar Nahdlatul Wathan.
1. Belajar di Madrasah al-Shaulatiyah
Dua tahun setelah terjadinya huru hara di Tanah Suci Makkah, stabilitas
keamanan relatif terkendali. Pada saat itu Muhammad Zainuddin berkenalan
dengan seseorang yang bernama Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalan
itu, Zainuddin diajak untuk masuk belajar di sebuah madrasah legendaris
di Tanah Suci, yakni Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini didirikan
pada tahun 1219 H, oleh seorang ulama besar imigran India, yaitu Syaikh
Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi. Madrasah ini adalah
madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam dunia pendidikan
di Saudi Arabia. Gaungnya telah menggema ke seluruh dunia dan telah
menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia.
Madrasah al-Shaulatiyah berkembang pesat dan maju. Ketika Muhammad
Zainuddin masuk di madrasah ini, pada tahun 1345 H [1927 M], Madrasah
al-Shaulatiyah di bawah pimpinan cucu dari pendirinya, yaitu Syaikh
Salim Rahtnatullah. Petama kali masuk, ia diantar oleh Haji Mawardi dan
langsung menghadap kepada Syaikh Salim Rahmatullah selaku pimpinan
[Mudir/ Direktur]. Pada hari pertama masuknya, ia bertemu dengan Syaikh
Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang
hubungannya paling dekat. Di sana juga ia bentemu Syeikh Sayyid Muhsin
al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajan syair pada Syeikh Sayyid
Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di madrasah
ini.
Sudah menjadi tradisi di Madrasah al-Shaulatiyah bahwa setiap thullab
baru yang masuk, harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang
tepat dan cocok bagi thullab baru tersebut. Demikian juga dengan
Muhammad Zainuddin, ia diuji juga terlebih dahulu. Dan secara kebetulan
ia langsung diuji oleh Mudir al-Shaulatiyah sendiri, yaitu Syaikh Salim
Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.
Akhirnya, Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukannya masuk di
kelas III. Padahal ilmu Nahwu-Sharaf yang belum dikuasai diajarkan di
kelas II. Mendengar keputusan tersebut, ia meminta agar diperkenankan
masuk kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran
Nahwu-Sharaf. Walau pada awalnya Syeikh Hasan bersikeras dengan
keputusannya, namun argumentasi Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir
kembali. Kemudian ia mengabulkan permohonan sang murid. Maka resmilah ia
diterima di kelas II.
Di Madrasah al-Shaulatiyah Zainuddin mulai tekun belajar. Ia ingin
membuktikan kemampuannya menguasai ilmu dengan baik. Di malam dan sore
hari, ia belajar kepada beberapa guru yang lain. Di rumah ia
menghabiskan waktunya untuk belajar, karena ia terus teringat ejekan
teman-temannya ketika masih belajar di Syeikh Marzuki.
Salah satu bentuk ketekunannya dalam belajar adalah besarnya porsi waktu
yang disediakan untuk membaca kitab-kitab mulai dari setelah shalat
tahajjud sampai waktu shalat shubuh tiba. Tidak heran jika suatu ketika,
ia tentidur sewaktu membaca kitab. Padahal tidak jauh dari tempatnya
membaca, terdapat sebuah lampu minyak. Tanpa disadari, ujung surbannya
menyentuh api lampu dan terbakar. Mencium bau benda terbakar ibunya
terbangun. Sementara ía masih tetap tertidur ibunya berteriak
membangunkannya. Ia terkejut dan langsung tembangun.
Kebiasaan membaca dan belajar dalam waktu yang cukup lama menyebabkan
matanya mengalami gangguan. Meski demikian, ia masih tetap mampu
mempertahankan kebiasaan tersebut sampai waktu yang cukup lama.
Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya
mengakui ia tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah selalu
mempercayakan kepadanya untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah
Saudi yang seringkali datang ke madrasah itu, Penilik madrasah itu
menganut faham Wahabi. Dan ia satu-satunya murid Madrasah al-Shaulatiyah
yang dianggap menguasai faham Wahabi. Pentanyaan Penilik itu biasanya
menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada Anbiya’ dan
Auliya’, bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan
sebagainya. Dan ia selalu berhasil menjawab pertanyaan Penilik itu
dengan memuaskan.
Ketekunannya dalam belajar dan bendiskusi juga diakui oleh salah seorang
teman sekelasnya di Madrasah al-Shaulatiyah tersebut, yaitu Syaikh
Zakaria Abdullah Bila, seorang ulama besar di Tanah Suci Makkah. Ia
mengatakan: “saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya telah bengaul
dekat dengannya beberapa tahun. Saya sangat kagum padanya. Dia sangat
cerdas, akhlaknya mulia. Dia sangat tekun belajar, sampai-sampai jam
keluar mainpun diisinya menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan
kawan-kawannya.”
Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Ia berhasil meraih peringkat
pertama dan juara umum. Di samping itu, dengan kecerdasan yang luar
biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun.
Padahal lama belajar normal adalah selama 9 tahun, yaitu mulai dari
kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV.
Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya
secara berturut-turut naik ke kelas VII, VIII dan IX.
Dengan tingkat kecerdasan [IQ] yang sangat tinggi ini, Syaikh Zakaria
Abdullah Bila mengatakan, “Syeikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di
kelasku, karena kegeniusannya yang sangat tinggi dan luar biasa, saya
sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku,
dan kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya
tidak pernah menang dalam berprestasi dikala saya dan dia bersama-sama
dalam satu kelas di Madrasah As-Saulatiyah Makkah.”
Lebih jauh Syaikh Zakaria menceritakan: “Pernah sehari sebelum ujian,
saya mengambil sebuah kitab di perpustakaan secara diam-diam dan
membawanya pulang Kitab itu hanya satu di perpustakaan, yang berisi mata
pelajaran yang akan diujikan esok harinya. Hal ini saya lakukan dengan
sengaja agar Syaikh Zainuddin tidak bisa menelaahnya, sehingga dalam
ujian nanti dapat mengalahkannya. Ternyata keesokan harinya dalam ujian,
dia benhasil menjawab semua, pertanyaan dengan sangat baik dalam bentuk
syair [puisi] dalam bahasa Arab.”
Namun demikian, suatu prestasi tidak akan pernah diraih tanpa adanya
pengorbanan. Kesuksesan studinya di Madrasah As-Shaulatiyah harus
dibayar mahal, dengan meninggalnya ibunya ketika ia masih sedang belajar
di madrasah tersebut. Ibrahim Husni merekam saat-saat dramatis kepergian
ibunya, sebagai berikut :
Karena dorongan tekad dan semangat yang kuat dalam menuntut ilmu, suatu
hari pada tahun keempat tinggal di Makkah, ia tetap masuk sekolah,
meskipun ibunya sakit keras. Semula ibunya memintanya tinggal di rumah.
Namun ía bersikeras untuk masuk sekolah lantaran hari itu ada pelajaran
Nahwu-Sharaf, yang kemampuannya pada pelajaran tersebut dirasakan masih
kurang. Melihat tekad anaknya Hajah Halimah al-Sya’diyah tidak tega
menahan kepergiannya. Padahal ía merasa, keadaannya sudah sangat kritis.
“Nanti jam 12.00 saya pulang bu”, ujar Zainuddin. Ibunya mengangguk
lemah.
Menjelang jam 12.00 ia meminta izin pulang karena kondisi ibunya sedang
kritis. Gurunya di madrasah memberi izin untuk pulang. Ia segera berlari
meninggalkan ruang kelas. Namun baru beberapa langkah, ía berhenti.
Hatinya diliputi suasana dilematis, antara keinginan menemani ibunya dan
beratnya meninggalkan pelajaran sharaf pada 2 jam terakhir. Hampir 10
menit dia berdiri termangu. Begitu sadar ia kembali ke madrasah dan
meneruskan pelajarannya.
“Mengapa kembali? Katanya ibumu sakit?, tanya seorang gurunya. “Ya betul
Maulana Syaikh, namun saya ingin sekali mengikuti pelajaran sharaf.
Kemampuannya saya dalam mata pelajaran itu amat lemah”, jawabnya.
Gurunya diam dan meneruskan pelajaran. Begitu pelajaran selesai,
Zainuddin segera berlarí pulang. Di tempat ía berdiri termangu tadi,
seseorang telah menjemput dan segera mengajaknya pulang. Di rumah tempat
tinggalnya, sudah ramai para tetangga mengurus jenazah. Ternyata ibunya
Hajah Halimatussa’diyah telah meninggal dunia. Satu-satunya keluanga,
ibu kandung, yang setia menunggunya belajar di Tanah Suci Makkah telah
tiada. Zainuddin terus menunduk dan terisak-isak. Innalillahi wa inna
ilaihi raaji’uun. Ibunya meninggal di rantau Tanah Suci Makkah tanpa
ditunggui.
Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berhasil
menyelesaikan studinya di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah pada tahun 1351
H. [1933 M] dengan predikat istimewa [Mumtaz]. Predikat istimewa
tersebut disertai pula dengan perlakuan yang istimewa dari Madrasah
al-Shaulatiyah.
Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khat terkenal di
Makkah saat itu, yaitu al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul
dari Direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Kemudian ijazah tersebut ditanda
tangani oleh beberapa orang gurunya. Ijazah tersebut diserah terimakan
kepadanya pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.
Setelah tamat di Madrasah al-Shauladyah, ia tidak langsung pulang ke
Indonesia. Tetapi bermukim lagi di Makkah selama 2 tahun sambil menunggu
adiknya yang masih belajar yaitu Haji Muhammad Faishal. Dua tahun ini
dimanfaatkannya untuk belajar, antara lain belajar ilmu Fiqh kepada
Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani.
Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh di Tanah Suci Makkah adalah
selama 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Berarti sampai
pulang ke kampung halamannya, ia sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak
13 kali.